BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Biji merupakan salah satu alat perkembang biakan bagi tumbuhan. (secara generatif) . Biji adalah suatu unit organisasi yang teratur rapi, mempunyai persediaan bahan makanan yang cukup untuk melindungi serta memperpanjang kehidupannya. Biji adalah alat untuk menyebarkan kehidupan baru dari suatu tempat ke tempat lain. Selain itu biji juga merupakan suatu wadah atau sarana tempat embrionic axis yang merupakan asal untuk pembentukan generasi baru. Walaupun banyak hal yang terdapat pada biji, tetapi baik mengenai jumlah, bentuk, maupun strukturnya mempunyai satu fungsi dan tujuan utama yaitu untuk menjamin kelangsungan hidupnya (spesies). Pembiakan dengan biji banyak dilakukan oleh para petani terutama untuk jenis komoditas pertanian, karena sebagian besar pertanian konvensional mengusahakan tanaman yang menghasilkan biji. Sebelum berkembang menjadi dewasa, biji terlebih dahulu melalui fase perkecambahan. (Nazieb, 2011).
Perkecambahan merupakan awal dari tumbuhan memasuki pertumbuhannya. Perkecambahan dimulai dari perombakan/penggunaan cadangan makanan yang terdapat dalam biji tersebut untuk pembentukan awal organ-organ tumbuhan, yaitu dengan perombakan kotiledon pada biji tersebut. Perkecambahan biji terjadi ketika radikula muncul dari kulit biji dalam kondisi baku suatu uji perkecambahan, atau petani biasa mentebutkan perkecambahan terjadi ketika bibit muncul dari tanah. Dalam memasuki fase perkecambahan biji banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor baik faktor dari dalam biji tersebut juga faktor luar seperti kelembaban, pH, cahaya, suhu, dan lain-lain.
Pertumbuhan adalah salah satu ciri makhluk hidup yang melangsungkan kehidupannya,. Seluruh organisme yang masih hidup melakukan pertumbuhan guna menambah massa, volume maupun tinggi tubuh organisme. Tidak terkecuali pada tanaman. Tanaman juga melakukan pertumbuhan sebagai salah satu ciri makhluk hidup.
Tumbuhan tumbuh dari kecil menjadi besar dan berkembang dari satu sel zigot menjadi embrio kemudian menjadi satu individu yang mempunyai akar, batang dan daun.
Kebanyakan tanaman toleran terhadap pH yang ekstrim rendah atau tinggi, asalkan pada media tanam tersedia unsur hara yang cukup. sayangnya tersedianya unsur hara yang cukup itu dipengaruhi oleh pH. Beberapa unsur hara tidak tersedia pada pH yang ekstrim dan beberapa unsur yang lainnya berada pada tingkat meracun. (Fitria, 2011).
pH akan mempengaruhi kondisi lingkungan disekitar perakaran. pH dekat perakaran akan berlainan dari pH dalam bagian terbesar suatu tanah Perubahan-perubahan tersebut dapat dikaitkan dngan perbedaan dalam banyaknya (miliekuivalen) kation dan anion yang diambil oleh akar..
pH menentukan mudah tidaknya unsur-unsur hara diserap oleh tanaman, pada umumnya unsur hara mudah diserap oleh akar pada pH netral, serta pH menunjukan adanya unsur-unsur yang bersifat racun.
Reaksi tanah sangat mempengaruhi ketersediaan unsur hara bagi tanaman. Pada reaksi media( tanah) yang netral, yaitu 6,5-7,5, unsur hara yang tersedia dalam jumlah yang optimal. Pada pH kurang dari 6 ketersediaan unsur-unsur fosfor, kalium, belerang, kalsium, magnesium,dan molibdenum menurun dengan cepat. Sedangkan pada pH yang lebih tinggi dari 8, akan menyebabkan unsur-unsur nitrogen, besi , mangan, boruim, tembaga,dan seng ketersediaannya jadi sedikit.
Perkecambahan dan pertumbuhan tanaman memiliki pH optimum yang berbeda-beda tergantung kepada jenis biji tanaman, setiap tanaman mempunyai kesesuaian pH yang berbeda-beda. pH dapat menunjukkan mudah tidaknya unsur hara diserap oleh tanaman, pada umumnya unsur hara mudah diserap pada pH netral, karena pada pH netral unsur hara mudah larut dalam air. Dengan pH yang optimum proses perkecambahan biji dapat berlangsung lebih cepat. (Fitria, 2011).
Pada praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat mengetahui pengaruh pH terhadap perkecambahan serta mengetahui pengaruh pH terhadap perkecambahan dan pertumbuhan biji untuk setiap golongan tumbuhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar